“Dari Papua Tengah, Kitong Bisa Lebih Baik”
Di Tanah Papua, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. Ia adalah roh yang merekam kesadaran zaman—cermin bagi nurani masyarakat yang terus berjuang menemukan dirinya di tengah arus modernitas dan ketimpangan sosial. Dalam pandangan filsafat eksistensial, manusia menjadi dirinya ketika ia sadar akan tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungannya. Begitu pula seorang jurnalis: ia eksis bukan karena mikrofon, kamera, atau medianya, melainkan karena kesadaran etisnya untuk menyalakan cahaya di tengah kegelapan informasi.
Papua, dengan segala keindahan dan luka sejarahnya, menuntut media yang tidak hanya cepat tetapi juga bijak. Media yang profesional berarti media yang berpikir, yang menimbang sebelum menulis, yang memahami sebelum menilai. Profesionalitas lahir dari kedalaman nurani dan kematangan moral—suatu sikap untuk menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi dan sensasi.
Sementara itu, inklusivitas adalah wajah kemanusiaan dalam jurnalisme. Ia menolak narasi tunggal, membuka ruang bagi suara-suara yang lama terdiam—suara perempuan di kampung, anak muda di pegunungan, petani sagu di rawa-rawa, dan nelayan di teluk. Dalam pandangan etika dialogis Martin Buber, manusia baru menjadi manusia ketika ia berjumpa dengan “yang lain” dalam relasi Aku dan Engkau. Maka, media yang inklusif adalah media yang menghadirkan perjumpaan itu: mempertemukan cerita, bukan memisahkan identitas.
Festival Media se-Tanah Papua 2025 lahir dari kesadaran ini. Di Nabire, dari jantung Papua Tengah, para wartawan, aktivis, dan masyarakat berkumpul untuk belajar, berbagi, dan meneguhkan kembali makna profesi mereka sebagai penjaga nurani publik. Dalam ruang diskusi dan pelatihan, mereka tidak hanya mempelajari teknologi baru, keamanan digital, atau strategi bercerita, tetapi juga menafsir ulang makna menjadi jurnalis Papua—yang berakar pada nilai, berwawasan global, dan berpihak pada kemanusiaan.
Tagline “Dari Papua Tengah, Kitong Bisa Lebih Baik” mengandung makna reflektif: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang lahir di dalam diri. Dari titik tengah inilah, lahir keyakinan bahwa media Papua mampu memperbaiki dirinya, memperbaiki masyarakatnya, dan pada akhirnya memperbaiki dunia yang memandangnya.
Dan di atas semua itu, festival ini berdiri di atas semangat “Enaimoo”—nilai luhur dari tanah Mee yang berarti gotong royong atau bahu membahu bekerja sama. Nilai ini menjiwai seluruh proses kolaborasi media di Tanah Papua: saling mendukung, saling menguatkan, dan bekerja bersama untuk kebaikan bersama. Dalam semangat Enaimoo, jurnalis bukanlah pesaing, melainkan saudara dalam perjuangan menyalakan terang kebenaran.
Sebagaimana dikatakan filsuf Paulo Freire, pendidikan sejati adalah pembebasan—dan jurnalisme, pada hakikatnya, adalah bentuk tertinggi pendidikan publik. Ia membebaskan manusia dari ketidaktahuan, ketakutan, dan manipulasi. Maka, festival ini bukan hanya perayaan profesi, melainkan sebuah tindakan pembebasan: langkah konkret menuju Papua yang damai, adil, dan bermartabat.
Karena di Tanah ini, kata dan gambar tidak hanya menjadi berita—mereka menjelma menjadi doa yang ditulis dengan keberanian, harapan, dan semangat Enaimoo.(*)
Oleh : Alberth Yomo

